image

24-10-2025

Persiapan Menuju PSAK 118: Apa yang Harus Diperhatikan oleh Entitas dan Auditor?

Dunia akuntansi Indonesia kembali bersiap menghadapi perubahan besar dengan hadirnya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 118: Penyajian dan Pengungkapan dalam Laporan Keuangan. Standar ini merupakan bagian dari upaya Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK-IAI) untuk menyesuaikan praktik pelaporan keuangan di Indonesia dengan perkembangan terbaru dalam International Financial Reporting Standards (IFRS).

PSAK 118 dirancang untuk menggantikan sebagian besar ketentuan dalam PSAK 1, dengan fokus utama pada peningkatan relevansi, keterbandingan, dan transparansi laporan keuangan. Dalam sebuah webinar yang disampaikan oleh Indra Wijaya, pembicara menekankan bahwa keberhasilan implementasi PSAK 118 sangat bergantung pada kesiapan entitas dan auditor dalam memahami dan menyesuaikan diri terhadap prinsip-prinsip baru yang dibawa oleh standar ini.

Mengapa PSAK 118 Diperlukan?
Selama ini, laporan keuangan sering kali dipandang terlalu padat, tidak fokus, dan sulit diinterpretasikan oleh pengguna non-teknis. Banyak entitas masih menyajikan informasi yang bersifat rutin, tetapi kurang informatif.

Melalui PSAK 118, DSAK berusaha mengatasi permasalahan ini dengan memperkenalkan pendekatan berbasis prinsip (principle-based) yang menekankan pada penyajian informasi material, relevan, dan representatif. Tujuannya adalah agar laporan keuangan benar-benar dapat menjadi alat komunikasi efektif antara perusahaan dan para pemangku kepentingan.

Pokok Perubahan dalam PSAK 118
Berikut beberapa hal penting yang perlu dicermati oleh entitas dan auditor dalam memahami arah baru PSAK 118:
1. Struktur Laporan Keuangan yang Lebih Terarah
PSAK 118 menegaskan pembagian kategori dalam laporan laba rugi menjadi lima bagian utama:
    * Aktivitas operasi
    * Aktivitas investasi
    * Aktivitas pendanaan
    * Pajak penghasilan
    * Operasi yang dihentikan
2. Klasifikasi ini diharapkan dapat memudahkan pengguna laporan keuangan memahami sumber utama laba atau rugi perusahaan.
3. Agregasi dan Disagregasi Informasi
Entitas harus menilai apakah suatu pos perlu digabung (agregasi) atau dipisahkan (disagregasi) berdasarkan tingkat materialitasnya. Informasi yang terlalu digabung bisa menutupi hal penting, sedangkan informasi yang terlalu rinci bisa mengaburkan gambaran besar.
4. Pengungkapan Ukuran Kinerja Tetapan Manajemen (UKTM)
Salah satu inovasi PSAK 118 adalah kewajiban entitas mengungkapkan ukuran kinerja yang ditetapkan manajemen (Management-Defined Performance Measures).
Pengungkapan ini harus disertai rekonsiliasi dengan subtotal yang diakui dalam laporan laba rugi, sehingga transparansi meningkat dan manajemen tidak bisa menyajikan angka “versi sendiri” tanpa dasar.
5. Penyesuaian pada Laporan Arus Kas
PSAK 118 juga mempengaruhi penyajian laporan arus kas. Dalam metode tidak langsung, laba operasi digunakan sebagai titik awal, dan klasifikasi bunga maupun dividen diatur agar selaras dengan kategori aktivitas terkait.

Langkah Persiapan bagi Entitas
Agar tidak terkejut dengan penerapan PSAK 118 yang direncanakan efektif pada 1 Januari 2027, entitas sebaiknya mulai melakukan beberapa langkah strategis berikut:
  1. Evaluasi Sistem Pelaporan dan Akun yang Ada. Periksa apakah sistem akuntansi sudah mampu membedakan pos berdasarkan kategori aktivitas (operasi, investasi, pendanaan).
  2. Tinjau Kebijakan Akuntansi dan Materialitas. Kebijakan lama yang mengacu pada PSAK 1 perlu diperbarui agar selaras dengan prinsip agregasi/disagregasi yang lebih ketat.
  3. Pelatihan Internal bagi Tim Akuntansi dan Manajemen. Pahami konsep baru seperti UKTM, kategori laba rugi, serta perbedaan antara penyajian dan pengungkapan.
  4. Simulasi Laporan Keuangan dengan Format PSAK 118. Lakukan uji coba penyusunan laporan keuangan dengan struktur baru untuk melihat potensi masalah dalam implementasi.
Peran Strategis Auditor
Bagi auditor, PSAK 118 menghadirkan tantangan tersendiri. Auditor harus:
  1. Memahami prinsip baru penyajian dan pengungkapan agar opini audit tetap relevan.
  2. Memastikan manajemen tidak salah menafsirkan konsep materialitas dan UKTM.
  3. Memberikan panduan teknis dalam proses transisi tanpa melanggar batas independensi.

Indra Wijaya dalam paparannya menekankan bahwa peran auditor kini bukan hanya sebagai pemeriksa kepatuhan, tetapi juga sebagai mitra penjamin kualitas informasi.


Baca Juga: Contoh Soal Akuntansi Keuangan beserta Jawabanya



Tantangan dalam Implementasi
Beberapa tantangan yang kemungkinan akan dihadapi antara lain:

  • Kompleksitas penentuan kategori laba rugi untuk entitas dengan berbagai segmen usaha.
  • Kesiapan sistem informasi akuntansi yang harus mendukung pelaporan multi-kategori.
  • Penyelarasan antara laporan keuangan dan laporan manajemen internal.
Meskipun demikian, jika dijalankan dengan baik, PSAK 118 akan membawa manfaat besar: laporan keuangan menjadi lebih transparan, fokus, dan bermanfaat bagi pengambil keputusan.

PSAK 118 adalah langkah penting menuju pelaporan keuangan yang lebih informatif dan kredibel. Bagi entitas, persiapan sejak dini akan meminimalkan risiko kesalahan dan meningkatkan efisiensi saat standar ini resmi berlaku.

Sementara bagi auditor, tantangannya adalah bagaimana memastikan penerapan PSAK 118 benar-benar mencerminkan prinsip fair presentation, bukan sekadar formalitas.

Sebagaimana disampaikan oleh Indra Wijaya dalam webinar PSAK 118, standar ini bukan hanya perubahan format, tetapi juga perubahan pola pikir: dari sekadar menyusun laporan, menjadi menyampaikan cerita keuangan yang jujur dan bermakna.